*Yang lama kembali* (short story)
Ketika sesuatu yang lama kembali.
Merusak segala yang telah di bina.
***
"Hy vie, iel minta nomer handphonemu tuh." Ujar seseorang gadis pada sahabatnya.
"Oh ya? untuk apa?" gadis yang di panggil 'vie' tadi menjawab tanpa berpaling dari buku yang ia baca.
"Idih, gitu banget sih jawabnya? Kalau di tanya untuk apa aku tak tahu, tapi sepertina dia menaruh rasa padamu. Katanya kalian dulu satu tempat les ya?"
"He'em. " balas Sivia singkat,
"Lalu kenapa kalian tidak berpacaran saja? ku pikir kalian cocok, dan kelihatannya iel lebih baik dari pada rio pacarmu itu." Agni, gadis itu terus berceloteh ria. Tampaknya ia sangat penasaran dengan kisah antara sahabat barunya -Sivia- iel dan rio.
"Kenapa? penasaran banget sih Ag?" Kini sivia menutup bukunya, ia tatap gadis manis di yang baru dikenalnya itu.
Ya, Agni dan Sivia baru saling mengenal beberapa hari lalu, mereka berkenalan saat masa orintasi siswa. Kini keduanya duduk di kelas IX. Walau mereka baru berkenalan tetapi keduanya begitu dekat dan sejak saat itu mereka bersahabat.
"Hm cuma tanya sih, jadi gimana nih kasih atau?" Tanya Agni lagi,
"Ya sudahlah, kasih saja. Tak masalah, hitung-hitung dapat teman baru." balas Sivia acuh tak acuh
"Oke,, pulang nanti kamu dengan Rio?"
"Iya mungkin."
***
Ketika sesuatu yang lama kembali.
Mengusik ketenangan.
***
"Hy Vie." Sapa sosok tampan yang tengah berdiri tegap di hadapan Sivia,
Gadis itu melirik sekilas, lalu kembali ke aktifitasnya yaitu membereskan buku dan segera pulang! Setelah pekerjaannya selesai Sivia tersenyum,
"Aku duluan Yel, sampai jumpa." Sivia menyelempangkan tas putih di salah satu bahunya, dan bergegas pergi. Bisa mati dia jika sang kekasih melihatnya-Rio-. Tapi sebuah tangan kekar menarik pergelengan tanganya. Sontak gadis berkacamata itu menoleh,
"Apa?" tanya Sivia singkat,
"Makasih nomernya, nanti aku smsmu ya?"
"Ya. Sudah ya aku ditunggu seseorang. Bye. "
"oke. Bye."
"manis" gumam lelaki itu-Gabriel-.
"aihh kenapa aku harus satu sekolah dengannya tuhan? Ku pikir dengan aku pindah tempat les itu aku takkan bertemu dengannya lagi. Mengapa hatiku ragu lagi pada Rio tuhann?" gerutu Sivia pelan, ia semakin mempercepat langkahnya. Mengingat sosok yang telah menunggunya.
"Ko lama Vie? Ada apa?" Tanya Rio-kekasih Sivia-. Sivia tersenyum tipis seraya menggeleng.
"Gapapa, tadi ngobrol sebentar dengan teman, ayo pulang." Ajaknya lembut,
"Teman? Siapa? Gabriel?"
Tepat, jawabannya tepat. Orang itu, dia yang datang kembali dalam kehidupannya.
"Lho? Tahu dari mana sayang?" Tanya sivia cemas, Ia takut, takut akan sang pujaan hatinya itu marah.
"Tadi aku lewat kelasmu, dan aku melihatnya."
"lalu kenapa kamu tidak datang menghampiriku? Bukankah kamu juga ingin kenal dengannya?"
"Aku takut mengganggumu sayang. Aku tau perasaanmu." Balas Rio dingin. Sivia menunduk, ia diam. Apa maksudnya itu? Mengganggu? "Hey! Emang ada apa antara aku dan iel?" Jerit Sivia dalam hati.
"Tak apa, aku takkan marah padamu. Aku percaya kamu. Ayo naik!" Sambung laki-laki jangkung itu. Ia meraih pergelangan tangan gadisnya, dan meminta dia untuk duduk di belakangnya.
"Ini helmnya sayang." Rio memberikan sebuah helm putih pada gadisnya yang kini masih diam mematung.
Sivia tersenyum dan meraih helm full face itu, Rio tak mengijinkannya naik kendaraan bermotor tanpa helm. Setelah melepas kacamata putihnya, sivia segera naik pada motor kesayangan rio itu.
Di perjalanan pulang mereka terdiam. Tidak seperti biasanya, meskipun jalanan sangat ramai dan bising tetapi keduanya selalu berceloteh ria. Tapi hari ini? Ntah karena apa semuanya berubah.
"Aku senang kita satu sekolah Vie. Tidak seperti dulu ya? Saat aku dan kamu hanya bisa bertemu pada jam pelajaran les saja." Rio memecahkan keheninganyang tercipta diantara keduanya.
"Iya, aku jga senang akhirnya kita satu sekolah. Walaupun kita tidak satu kelas yo." balas Sivia sedikit keras mengingkat jalanya yang sangat bising.
"Kamu juga pasti senangkan dapat satu sekolah dengan pujaan hatimu dulu? Hahaha, aku harap kamu tidak meninggalkanku dan memilih bersamanya. Sang cowo Prepect." Ujar rio disertai tawanya, tapi tawa itu. Bukan tawa yng biasa si dengar Sivia. Tawa itu lebih terdengar seperti tawa khawatir? atau itu sebuah sindiran?
"Kamu itu, apa sih! Kenapa tiba-tiba beralih pada Gabriel? Kitakan sedang bicara tentang sekolah." Sivia kesal, bukan bukan kesal lebih tepatnya takut! Ya dia terlalu takut jika mengingat dua sosok yang sama-sama hmmm -pernah dan sedang- menempatinya. Gabriel dan Mario.
"Haha,, iya maaf." Dan kata maaf yangterucap dari bibir manis Rio itu menutup pembicaraan mereka.Tak lama keduanya sampai di gerbang perumahan elit di kota itu. Setelah Rio membunyikan klaksonya memberi hormat pada sang satpam ia berhenti di salah satu rumah besar berwarna putih gading yang terkesan simple dan elegan itu (benerganulisnya? :P ).
Sivia melepas helm full facenya, dan mengambil kacamata lantas memakainya. Setelah sedikit menyisir rambut dengan jari tangan ia pamit pada kekasihnya itu.
"Makasih ya Yo, mau mampir dulu?" Tanya Sivia seraya memberikan helmnya, Rio tersenyum menggeleng.
"Sama-sama, Lain kali aja ya sayang. Hari ini aku lelah, besok aku jemput yah?"
"Hmm, baiklah. Jangan pergi kemana-mana ya, diam saja di rumah istirahat. Terserah kamu." jawabnya.
"Iyya bawel! Aku pulang ya, bye." Setelah mencubit pipi cubby gadisnya itu Rio kembali menumpangi motornya. IA bunyikan klakson beberapa kali dan menggas motornya dalam. Ia melaku dengan kecepatan tinggi. Sivia masih diam memandang pangerannya, ia tau saat ini Rio marah. Itulah dia, tidak pernah menampakan dan menunjukan bahwa dia marah atau kecewa. Dia memilih menantang maut dengan mengemudikan kendaraannya dengan cepat. Dan tak jarang lelaki itu mendapat makian karena menggunakan jalan seenanya saja.
"Maaf sayang." Gumam Sivia pelan, sangat pelan. Gadis itu bergegas masuk kedalam istananya, rambut panjangnya yang tergerai di mainkan angin seraya ia melangkah. Langlit hari ini tampak tak bersahabat. Mentari pelit sekali membagikan sinarnya dan lebih memilih bersembunyi di balik awan hitam.
***
Ketika seseuatu yang lama kembali.
Meragukan segala yang telah tesrjadi.
***
Sivia diam, tatapannya kosong. Tapi pikirannya tidak. Ah, mengapa ini sangat sulit. Mengapa Gabriel harus datang di saat dia telah menemukan penggantinya? Hey! Coba saja dulu Gabriel lebih terbuka padanya, coba saja dulu gabriel mengenalnya atau coba saja gabrielll ahhhh sudahlah. Tak ada dunanya ia berandai andai. Getaran kecil yang ditimbulkan benda kesayangannya berbunyi. Gadis itu tersenyum, berharap Rio memberi kabar dan meminta maaf padanya. Pasalnya setiap Rio mengemudikan motornya dengan kasar di depan Sivia, lelaki itu selalu meminta maaf karena Sivia tak suka itu. Ia tak suka Rio yang brutal.
Senyumnya menghilang, raut wajahnya kembali murung. Lelaki itu! Ada rasa ragu, bingung, marah, kecewa, dan bahagia. Tunggu, apa tadi? bahagia? Oh Tuhan ada apa dengan gadis ini?
from: 081XXXX
Hy Vie,
ini aku Gabriel. :)
Lagi apa cantik?
Setelah nomer itu ia save,dengan cepat Sivia membalas pesan singkat dari dia, dia lelaki itu yang pernah menempati tempat istimewa di hatinya.
To: Gabriel-iel-
Hy juga yel,
aku sedang duduk saja, kamu sendiri?
Ya, waktu itu berlalu dengan cepat. Mereka berdua larut dalam obrolan-obrolan yang tak penting. Sivia lupa, ia lupa dunia. Seakan kini ia hanya berdua dengan dia-Gabriel- tanpa sadar akan ada ang tersakiti jika ia bersama gabriel. Ia lupa akan keadaan kekasihnya sendiri. Ia terlalu larut dalam kesenangan, seakan balas dendam dengan apa yang tak ia dapatkan dulu bersama Gabriel. Dulu rasanya jia ia hanya mendapatkan senyuman dari gabriel itu sudah lebih dari cukup. Sekarang? sekarang ia mendapatkan lebih dari pada itu.
***
Ketika sesuatu yang lama kembali.
Mulai menimbulkan retakan,
Dan kerusakan tak dapat di cegah.
***
Rio memacu motornya dengan cepat, ia bingun apa yang harus dilakukannya. Ia takut, ia kesal, ia marah, ia cemburu, dan semuanya menjadi satu. Teriakan dan makian menghujaninya sepanjang jalan. Klakson kendaraan lan meraung protes dengan kelakuannya. Tapi ia tek peduli, apapun ituia tuli, ia buta, dan ia mati rasa.
Kini semua yang di takutkannya terjadi, lelaki itu-Gabriel-datang kembali di kehidupan gadisnya, dan apakah itu akan merusak suasana yang ada? Walaupun ia tak pernah kenal langsung dengan Gabriel tapi ia telah banyak mendengar cerita tentang lelaki itu. Dulu, terekam jelas di telinganya saat gadisnya itu bercerita bahwa dia menyukai Gabriel,dan masih ia ingat saat gadisnya itu kecewa mendengar Gabriel memilih Alyssa atau yang karab di sapa ify dari pada sivia.
Semua kenangan pahit harus di terimanya, yang harus ia pahami dan menamparnya dengan jelas karena gadisnya SIVIA AZIZAH pernah mencintai seorang GABRIEL STEVENT DAMANIK, yang jelas-jelas lebih unggul darinya.
Berlebihan memang jika dilihat-lihat, pasalnya Rio telah lebih unggul karena kini statusnya dengan Sivia adalah sepasang kekasih. Berbeda dengan Gabriel yang statusnya hanya teman, dan mereka pun berkenalan resmi itu saat di SMA ini.
Begini ceritanya agar kalian paham mengapa rio begitu khawatir pada gabriel yayng mulai dekat dengan gadisnya,
Dulu, Sivia mengikuti salah satu bimbingan belajar, disana dia mengagumi sosok gabriel. Karena menurut kabar yangberedar gabriel itu sangat baik hati dan pintar. Belum lagi tampangnya yang sangat tampan itu. Meski begitu Gabriel tidak pernah mengenal Sivia karena mereka berbeda jadwal. Tanpa Gabriel ketahui Sivia menyimpan rasa padanya. Tapi karena Sivia tidak berani untuk menegur apalagi berkenalan dengannya Sivia lebih memilih diam. Tetapi diamnya sivia membawa bencana. Gabriel lelaki yang di cntainya malah berpacaran dengan gadis manis berbehel bernama Alyssa. Tau yang akrab di sapa Ify.
Sivia sadar ia hanyalah gadis biasa yang tidak pantas untuk pria sesempurna Gabriel. Sivia lebih memilih pindah bimbingan belajar, dan kebetulan ia bertemu Rio saat itu. Sivia dan Rio bersahabat meski keduanya tidak bersekolah di tempat yang sama. Semua keluh kesah sivia diceritakan pada sosok yang dewasa yaitu Rio. Dan ntah awalnya dari mana mereka bisa berpacaran
Begitulah kira-kira cerita singkatnya, semua cerita itu berputar di otak rio. Sekali lagi ia takut bahwa Sivia masih menyimpan rasa pada gabriel dan akhirnya sivia memlih gabriel dari pada dirinya.
Rintik-rintik hujan tak menghalanginya, ia terus melaju dengan kecepatan tinggi. Seluruh tubuhnya basah. Ia memilh pulang saat ini, Rio tak mau besok penampilanya kacau saat bertemu sivia.
***
"tinnn..tinnn.." Begitulah kita-kira suara klakson dari motor rio. Kini Rio telah berada di depan pagar tinggi istana gadisnya. Penampilannay tidak seburuk yang ia pikirkan. Hanya ada lingkaran hitam kecil di bawah kelopak matanya, dan bibirnya yang sedikt membiru. Tak parah bukan? haha!
Sepertinya rio kurang tidur semalam.
Dengan tergesa-gesa Sivia menghampiri Rio. Ia sedikit merapihkan rambut dan memakai kacamatanya.
Sivia tersenyum,
"pagi.." sapa sivia ramah, Rio hanya tersenyum, ia serahkan helm yang biasa di pakai sivia. Sivia terdiam memandang wajah kekasihnya itu. Keningnya berkerut dan alisnya hampir menyatu.
"Kenapa?"tanya Rio yang risih di pandang seperti itu,
"wajahmu kenapa? kurang tidur ya? atau sakit? kenapa sekolah? kemarin kemana? tidak ada kabar sama sekali, kan sudah ku bilang kamu jangan kemana-mana, jadi ginikan.." Sivia terus berceloteh, Rio hanya tersenyum.
"Dasar cerewt! Aku tak apa-apa, ayo naik, nanti kita terlambat."
"yakin kamu mau masuk sekolah Mario?"
"Ya Sivia."
Sivia menyerah, susah mengatur anak nakal ini.
***
Ini sudah istirahat kedua, tapi Rio tak kunjung menghampirinya. Biasanya oada jam istirahat pertama rio sudah berada di beranda kelasnya Tapi kali ini? Kemana anak itu? Masa ia harus wanita terlebih dahulu yang menghampiri seorang lelaki? oh tidak terima kasih!
Jadi istirahat pertama tadi Sivia asyik mengobrol dengan GABRIEL!
Tapi di istirahat kedua ini sivia benar khawatir, ada apa denga Rio ini?
"Hhh.. kamu di mana rioo? Ayolah angkat telponku" Sivia diam,
"Oke sekali saja Sivia, sekali. Kali ini kamu harus mencarinya terlebih dahulu!" Ujar sivia pada dirinya sendiri. Setelah itu ia meraih handphone dan bergegas pergi ke kelas kekasihnya.
Kelas itu kosong, hanya ada seseorang yang tengah duduk di bangku paling pojok. kedua tanganya di lipat di atas meja, dan kepalanya di simpan di atas tangan kekar itu. Dengan hari-hati sivia menghampiri sosok itu. Ia diam, merangkai kata-kata ntuk anak nakal di hadapannya ini.
"Rio..?" Sapa sivia pelan.
"Rio.. Yo? kamu ga papakan?"
Rio menggeleng pelan. Posisinya tak sedikitpun berubah. Kepalanya berat, pusing dan sakit. Diam. kedua orang itu diam. Sivia masih berdiri dengan handphone di tangan kirinya. Ia menunggu reaksi dari rio. Tak lama rio duduk tegap di hadapannya. Sivia duduk di kursi depan rio. Kini mereka berhadapan.
"Kamu sakit?" tanya sivia pelan,
"menurutmu?"
"Aku antar ke UKS ya?"
"tidak perlu, aku ke kantin yah sayang. Bye." Rio berdiri,tunggu. Ia berdiri dengan tangan bertumpu pada tembok. Rio mulai berjalan. Ia berjalan sempoyongan, sepertti hilang kendali. Sivia masih diam, ia menunduk. Hey! ada apa ini?
Rio menghentikan langkahnya, ia memegang kepala. Sungguh sakitnya ini datang di saat yang tidak tepat. Ah mengapa kemarin ia harus hujan-hujanan segala? beginikan jadinya? SHIT!
Cukup, cukupp, rio tak tahan lagi ia segera duduk di bangku kedua dari depan. Ia diam. Sivia sadar, ia segera menoleh pada Rio. Didapatinya dia sedang duduk. Lah? Tadi katanta dia mau ke kantin?
"Yo? kamu kenapa sih? sakit ya? wajahmu pucat sekali sayang." Sivia menyentuh tangan rio dan meraihnya. Hangat.
Rio tersenyum,
"ga perlu vie, makasih."
"yakin? tapi kamuuu..." ucapan sivia terpotong,
"Aku ga papa, cuma kurang tidur. Sebentar ya."
Rio kembali melipat tangannya dan merebahkan kepalanya di atas meja. Ia tertidur. Sivia diam. Berdiri di samping lelaki nakal itu.
"teettttt.........." Bel tanda istirahat telah usai berbunyi. Sivia kaget, ia baru sadar sudah berapa menit ia berdiri di situ tanpa bergerak? menunggu Rio bangun. Tiba-tiba suara dari speaker sekolah terdengar,
"Anak-anak, hari ini sekolah di bubarkan karena ibu dari kepala sekolah kita wafat, semua guru akan pergi kesana. Segera rapihkan buku kalina dan bergegas pulang. terimakasih."
Sivia masih diam, Rio pun sama. Ia asyik dengan dunia mimpinya. Semua siswa kelas Rio masuk, namn sivia tetap diam. Mereka sudah megenal sivia yang memang berstatus sebagai kekasih rio. Beberapa orang tersenyum dan menyapa sivia. Mereka tak heran melihta rio tertidur di kelas. Toh sering juga anak-anak lain yang tertidur pada jam istirahat.
"Lho? kenapa Rionya tidak di bangunkan Vie? semua sudah pulang." Tegur Ozy sang ketua kelas,
"ha? iya nanti aku bangunkan. Kasihan dia kurang tidur sepertinya. " balas sivia seraya tersenyum.
"ya sudah kalau begitu, aku duluan ya." pamit ozy yang di angguki oleh sivia.
30 menit..
60 menit..
90 menit..
120 menit..
Sivia masih diam di tempatnya, sekolah sudah sangat sepi. Hanya ada penjaga sekolah dan satpam saja mungkin. Sedari tadi Sivia hanya diam memandang wajah rio.
Tak lama, rio terbangun. Wajahnya tak seburuk tadi. Sivia tersenyum.
"udah tidurnya? Gimana? udah enakan yo?" tanya sivia hati-hati
rio tersenyum,
"iya, lho jam berapa sekarang?"
"12.00 yo ." jawab sivia
"hah?"
"iya, yang lain sudah pulang dua jam yang lalu"
"memang ada apa?"
Sivia menceritakan semuanya, tentang orang tua kepala sekolah yang meninggal. Tapi ia tidak bercertita tentang satu hal ia tidak bercerita bahwa dia berdiri 2 JAM untuk menungggu rio bangun!
***
Kaki sivia ngilu, sakit sekali rasanya. Dua jam berdiri, siapa yang tidak sakit coba? Hhh..
tak apa demi rio, ujarnya dalam hati. Lagi-lagi getaran handphone mengganggunnya,
from: Gabriel-iel-
vie?
aku boleh bicara sesuatu?
to: Gabriel-iel-
silahkan :)
from: Gabriel-iel-
aku suka sama kamu vie,
mungkin terlalu cepat tapi bagaimana lagi?
aku sayang kamu.
sivia tecekat. Ia diam, jika saja dulu gabriel mengatakan ini padanya, pasti ia akan berteriak kegirangan. Namun jika kini ia berkata demikian hanya sesak yang sivia dapatkan. Sivia memutar otak, ingatannya tertuju pada Rio.
to: gabriel-iel-
Aku tidak bisa jawab sekarang yel.
maaf, aku butuh watku.
makasih kamu sudah menyayangiku. :)
***
Hari ini Sivia bertemu dengan Shilla, si mantan ketua osis yang cantik, Sivia dan shilla dekat karena MOS juga. Dan sivia selalu bercerita pada shilla tentang apa yang di alaminya.
kini keduanya bertemu saat pulang sekolah, tepatnya di parkiran.
"Ka Shilla.." panggil sivia, Sivia berlari menghampiri shilla. Shilla tersenyum ramah. Sivia mengeluarkan handphone-nya ia tunjukan sms Gabriel semalam, sontak mata shilla membulat. Rio datang dan mengambil paksa handphone sivia. Mati sudah!
rio tersenyum kecil, Sivia menunduk. jangn jangan sampai ia menangis.
"Yang lama telah kembali, pilih. Aku atau Dia!"
Dan Tesss! air mata itu turun tanpa di komando.
"ya sudah, pilih saja dia! Lupakan aku." ucap rio datar, tanpa emosi.
"tapi yo.."
"Sudahlah."potong rio cepat,
"Ka? tolong.." pinta sivia pada shilla,
"Rio! hey kamu membuat dia menangis!ayolah kalian sudah berpacaran sebelum masuk SMA ini, masa harus tandas seperti ini? dan kamu Sivia, kaka harao kamu bisa pilih sayang. Lihat, baik-baik. Kakak tau kamu pasti bisa memilih."
***
Pikiran rio hancur,
mengingat sivia yang tadi menangis, dan perkataan ozy.
"kemaren pulang jam berapa yo?"
"jam 12"
"hah? jam 12? kemaren kita pulang jam 10 yo, dan gue liat sivia berdiri aja tuh sampe semua balik, apa dia berdiri sampe lo bangun?"
"Sivia berdiri? dari jam 10?"
ozy mengangkat bahu,
"sepertinya yo."
ahh.. andai saja saat itu sivia pergi meninggalkannya tyang tertidur. Mungkin jika tadi ia meminta putus pun tak masalah. Tapi kalau begini lain lagi ceritanya, Rio merasa bersalah telah membuat sivia berdiri berjam-jam.
"Maaf vie, maaf.."
***
to: - Gabriel-iel-
-Mario_ku
Ketaman perumahanku sekarang ya.. :)
Setelah menekan tombol send, sivia meraih jaket dan segera pergi.
***
"Maaf aku sudah menggangu kalian, aku sudah putuskan. Aku memilih rio. Maaf yel mungkin jika kamu dulu memilih aku saat aku masih sendiri mungkin aku kan bersamamu. Tapi kamu bukan memilih aku. Jadi bukan aku yang tidak memilih kamu, tapi kamu yang tidak memilih aku. Aku akan tetap bersama Rio yang selalu meemaniku."
"Tapi vie, dulukan kita belum kenal." sanggah gabriel
"Tapi aku kenal kamu, dan aku yakin kamu tau aku."
"Lalu kenapa harus Rio?"
"karena dia ada di samping aku."
"tapi,,,"
"Sudahlah yel, bukan karna dia,memang kamu yang salah."
"iya vie, maaf.Dulu aku tidak melihatmu."
Rio diam, dia tidak mau ikut campur.
Kini sivia mengamit tangan Rio, dan menggenggamnya.
"Kita duluan yel." Pamit sivia.
"Oke, makasih vie atas jawaban kamu. Kita masih bisa bersahabat kan? Vie? Yo?"
"Pasti!" JAwab rio dan sivia.
"Maaf yel tapi sivia milik gue.." ujuar rio pelan,
"gue tau lo menang yo, dan gue harap lo bisa jaga Sivia."
"pasti yel .."
Sivia dan rio berjalan berdampingan, gabriel mengikutinya dari belakang.
Ketiga orang itu tersenyum bahagia.
"maaf sudah membuatmu berdiri berjam-jam sayang.." ujar rio
_The End-
"Bukan karna dia, memang kamu yang salah" Yang lama kembali (short story)
Jika dia tidak memilihmu, ikhlaskan. Karena dia bukan satu-satunya orang di dunia ini.
Dan lihatlah sekitarmu, karena sesungguhnya orang yang menyayangimu adalah orang yang sangat dekat denganmu.
Dan jika yang lama kembali, jangan biarkan yang lama menghancurkan yang baru. Karena yang lama telah membuat kita hancur dengan kepergianya.
Jadilah seperti rio yang mau melepaskan Sivia untuk gabriel jika memang itu membuat sivia bahagia, tapi pada akhirnya sivia tetap miliknya karena kesabaran dan keikhlasannya.
jadilah seperti sivia yang menghargai rio karena rio yang berada di sampingnya saat gabriel memilih ify. dan jadilah seperti sivia yang tak mau meninggalkan orang yang selalu di sampingnya demi kebahagiaannya bersama gabriel.
Dan jadilah seperti sivia yang membuka hati sepenuhnya untuk rio dan melupakan gabriel demi rio.
Jadilah seperti gabriel yang rela sivia bersama rio, dan mengakui kesalahannya menyia-nyiakan sivia dahulu. Jadi memang salahnya jika sivia memilih rio dari pada dirinya.
HAhaha..
akhirnya selesai juga,
aneh? Pasti
jelek? jangan di tanya pasti jawabannya
hmm..
sudahlah yang penting saya selesai menulis :P
harap tinggalkan jejak yyah :*
nb:maaf jika ada penulisan yang salah atau alurnya ga ngerti -__-
nulisnya buru-buru .. :D
semoga suka, dan maklum ya kalau banyak tulisan yang salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar